QUR'ANIC STUDIES HADITH STUDIES GENERAL KNOWLEDGE
ISLAMIC NEWS GENERAL NEWS SCHOLARSHIP NEWS
HAPPY STORY SAD STORY CERPEN
MY PROFILE MY VILLAGE YOGYAKARTA

Kamis, 12 Januari 2012

KAJIAN HADIS DI PESANTREN (STUDI KASUS PP. TARBIYATUT THOLABAH LAMONGAN)

A.   PENDAHULUAN
Pesantren, sebagai basis utama penyebaran Islam di Indonesia yang eksistensinya sudah ada sekitar 500 tahun silam tentunya memiliki berbagai macam kajian keislaman, tak terkecuali hadis Nabi. Banyak sudah kitab-kitab hadis yang dipelajari di pondok pesantren seluruh Indonesia, sebut saja Bulug al-Mara>m, Riyad al-S{a>lihi>n, al-Adzka>r, dan lain sebagainya. Semuanya memunculkan geliat akademik tersendiri bagi masyarakat muslim.  
Namun, upaya penelusuran sejarah perkembangan kajian hadis di Indonesia belum dilakukan secara sistematis. Realitas ini paling tidak disebabkan karena dua hal. Pertama, kenyataan bahwa kajian hadis tidak seintens kajian keislaman lain, seperti al-Qur’an, fikih, akhlak, dan lain sebagainya. Kedua, kajian hadis berkembang sangat lambat, terutama bila dilihat dari ulama Nusantara telah menulis di bidang hadis pada abad ke 17. Namun demikian, seperti terlihat kemudian, tulisan-tulisan tersebut tidak dikembangkan lebih jauh. Kajian hadis setelah itu mengalami kemandekan hampir satu setengah abad lamanya. Untuk itulah, perhatian para pengamat terhadap kajian hadis di Indonesia masih sangat kurang. Kalaupun ada pengamat yang menaruh perhatian, perhatiannya masih parsial dan tidak komprehensif (Jurnal Online, Studi Hadis di Indonesia, 1).
Oleh karenanya, dalam makalah ini akan dibahas mengenai kajian hadis di salah satu pesantren yang berada di daerah pantura Jawa, yaitu PP. Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan. Dalam tulisan ini, penulis akan memberikan eksplanasi berupa sejarah pondok; deskripsi singkat kitab-kitab berkonten hadis yang dipelajari; serta metodologi pengajaran di pesantren tersebut. Semoga makalah ini bisa memberikan kontribusi baru dalam khazanah keislaman, khususnya pada studi hadis di Indonesia.    
B.   SEJARAH PP. TARBIYATUT THOLABAH
Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Tabah) didirikan oleh KH. Musthofa Abdul Karim pada tahun 1898. Pesantren tertua di Lamongan ini menempati lahan sekitar lima hektar dan terletak di pantai utara Kabupaten Lamongan, tepatnya di desa Kranji Paciran Lamongan. Lahirnya pesantren ini tidak dapat lepas dari sejarah masyarakat Desa Kranji yang membutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar bisa menjadi panutan umat.
Kiai Musthofa yang telah lama berkelana untuk mendalami ilmu di sejumlah pondok pesantren (meliputi, Sampurnan Bungah Gresik, Langitan Tuban, Burno Bojonegoro, dan Kiai Kholil Bangkalan), akhirnya diminta masyarakat Kranji untuk menjadi pemipin dan guru masyarakat yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Karena kepeduliannya terhadap masalah umat, Kiai Musthofa bersedia bermukim di desa Kranji. Tidak lama kemudian, tepatnya pada bulan Jumadil Akhir, Kiai Musthofa mulai merintis sebuah pondok yang diberi nama Tarbiyatut Tholabah sebagai pusat pendidikan ilmu agama untuk masyarakat setempat.
Dalam waktu yang cukup singkat, lahan tanah pesantren pemberian H. Harun (warga Desa Kranji) yang dikenal angker itu disulap menjadi sebuah bangunan pondok pesantren yang sederhana, tapi cukup bagi para santri untuk belajar. Pesantren yang dirintis Kiai Musthofa langsung diterima oleh masyarakat luas, meski tidak sedikit pula masyarakat yang menentangnya.
Pesantren ini sudah berganti kepemimpinan sebanyak empat kali. Sekarang, PP. Tabah diasuh oleh KH. Moh. Nasrullah Baqir dan memiliki banyak lembaga pendidikan. Di lembaga formal ada TK, MI, MTs, MA, Staidra (Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Drajat), Madin (Madrasah Diniyah) Wustho, Madin Ulya, dan Ma'had Ali spesifikasi al-Qur'an (tiga terakhir dibentuk pada tahun 2009). Sedangkan kategori lembaga pendidikan non-formal meliputi Diniyah Ula, Diniyah Wustho, Diniyah Ulya, dan TPQ (dikumpulkan dari berbagai sumber).    
C.   KAJIAN KITAB HADIS DI PP. TABAH; SEBUAH DESKRIPSI SINGKAT
Dalam menjelaskan kajian hadis di Pondok Pesantren ini, penulis membagi menjadi dua kategori, yaitu wilayah pondok pesantren dan wilayah lembaga pendidikan. Selanjutnya, lembaga pendidikan dibagi lagi menjadi dua, yaitu lembaga pendidikan formal dan non-formal.
1.   Wilayah Pondok Pesantren
Studi hadis yang berada pada wilayah pondok pesantren ini tidak begitu mempunyai perhatian yang signifikan. Dalam memberikan pengajaran pada santri-santrinya, Pondok Pesantren ini hanya mengajarkan Fath al-Mu’i>n di waktu pagi dan Tafsi>r Jalalain di saat sore hari. Namun, ketika bulan Ramadhan datang, kitab-kitab yang berkonten hadis mulai banyak dikaji di pesantren ini. Disini, penulis mencoba mengklasifikasikan kitab-kitab yang dipelajari di bulan Ramadhan tersebut berdasarkan tingkatan pendidikan (MA-MTs.). Data ini diambil dari daftar kitab pada tahun 2010 kemarin.
Madrasah S{anawiyah
Madrasah Aliyah
Durar al-Bahiyyah
Durrah al-Nasihi>n
Taisir al-Khalaq
Kitab al-Kaba>ir
Fadhail al-A’ma>l
Jawa>hir al-Bukhari>
Wasiyyah al-Must}afa>
Bidayah al-Hida>yah
Fath al-Majid
Uqud al-Lujjain
Risalah Mu’a>wanah
Tanwi>r al-Qulu>b
Risalah al-Siya>m
Hikayah al-A<syi>  
Khula>sah Nurul Yaqi>n
Matan H{adra>mi>
Sullam al-Taufi>q
Qurrah al-Uyu>n
   
2.   Wilayah Lembaga Pendidikan
a.    Lembaga Formal
Pada lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, tidak diberikan studi khusus mengenai  kitab-kitab hadis. Pengajaran-pengajaran hadis masih berkutat pada buku-buku sekolah yang menjadi objek studi. Sementara pada tingkatan Madrasah Tsanawiyah, terdapat sedikit peningkatan yaitu dipelajarinya kitab Bulug al-Mara>m karya Ibnu Hajar al-Asqala>ni> sebagai mata pelajaran khusus.
Di tingkat Madrasah Aliyah, tidak ada mata pelajaran khusus kitab hadis. Hanya saja, di jurusan agama (MAK) disertakan pelajaran ulumul hadis sebagai metodologi klarifikasi otentisitas hadis. Begitu pula di jurusan umum (Unggulan, IPA, IPS, Bahasa) diberikan mata pelajaran ilmu hadis, tetapi tidak sedalam sebagaimana di MAK. Pada tingkatan perguruan tinggi Staidra, layaknya perguruan tinggi pada umumnya, berbagai kitab hadis maupun ulumul hadis dijadikan rujukan perkuliahan. Namun tidak dikaji secara intens pada satu kitab tertentu.
Lembaga pendidikan yang berbasis agama, Madrasah Diniyah (Madin) terdapat kajian ulumul hadis yang cukup intens. Pada tingkatan wustho, kitab-kitab yang dikaji antara lain Must}alah al-Hadi>s dan Ulu>m al-Hadi>s. Sementara pada tingkatan ulya, terdapat kitab Must}alah al-Hadi>s, Us}u>l al-Hadi>s, dan Ulu>m al-Hadi>s. Di tingkat Ma’had Ali kitabnya lebih bervariasi antara lain Us}u>l al-Hadi>s, Ulum al-Hadi>s, S{ahi>h Bukha>ri>, S{ahi>h Muslim, Sunan Abu> Dawud, dan lain sebagainya (Interview dengan H., ketua Pondok tanggal 7 Maret 2011).
b.   Lembaga non-formal
Di lembaga pendidikan non-formal yang berada di naungan PP. Tabah tidak diajarkan sama sekali mengenai kajian hadis. Tercatat hanya ada tiga objek pembahasan, yaitu Nahwu, sharaf, dan fikih. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya karakteristik pondok ini merupakan pondok yang berbasis nahwu-fikih layaknya mayoritas pesantren di Indonesia.
D.  METODE PENGAJARAN
Pengajaran hadis di Pesantren ini layaknya pesantren Jawa kebanyakan, yakni Ustadz membacakan hadis kemudian diartikan dengan makna Jawa gandul (pegon). Makna pegon ini diaplikasikan kata perkata. Setelah itu, Ustadz menjelaskan maksud dari hadis yang dibacakan, yang terkadang disertai kontekstualisasi di zaman sekarang. Namun, bagi santri yang sudah menginjak Ma’had Ali, dalam perkuliahanya sudah tidak lagi menggunakan cara demikian. Mereka dipersilahkan memahami hadis-hadis yang ada secara individual. Apabila terjadi ketidakpahaman dengan yang diajarkan, santri secara otomatis bertanya pada ustadz. Penjelasan secara mendalam baru diberikan ketika perkuliahan berlangsung.   
Pesantren Tabah secara karakteristik bukanlah pesantren hadis, akan tetapi pesantren nahwu-fikih. Sehingga hafalan hadis tidaklah dilakukan, yang menjadi hafalan hanyalah juz amma, bait-bait Alfiyyah Ibnu Ma>>lik, jurumiyah, serta al-Qur’an bagi Santri Ma’had Ali. Hafalan al-Qur’an sendiri baru menjadi program Pondok ini setelah Ma’had Ali dibentuk. Sebelumnya, tahfidz al-Qur’an hanya dilaksanakan oleh beberapa santri yang punya ‘niat khusus’ saja.
Background sebagai seorang muhaddis atau tenaga pengajar hadis sangat mempengaruhi dalam metode pengajaran dalam pesantren ini. Misalnya, ketika LL (inisial), Bu Nyai yang pernah mengenyam pendidikan tafsir hadis di PTIQ mengajar kita>b al-Kaba>ir, beliau dalam menerangkan hadis yang ada dalam kitab tersebut tak lupa juga menyebutkan kualitas hadis, meskipun sebenarnya dalam kitab yang dipegang santri tidak ada tahqiqnya. Sang ustadzah pada saat mengajar memakai kitab yang berbeda dengan kitab yang dibawa santri. Kitab yang beliau gunakan merupakan kitab yang sudah ditahqiq oleh ulama. Sehingga mempermudah dalam memahami kualitas hadis. Bahkan beliau juga banyak mengkritisi kitab-kitab lain yang banyak memakai hadis dhaif, misalnya Qurrah al-Uyu>n dan Durrah al-Na>sihi>n. 
Berbeda halnya dengan Ustadz MN yang berpendidikan asli Pondok Pesantren salaf yang mengajar kitab al-Adzka>r. Meskipun kitab tersebut banyak berkonten hadis, akan tetapi beliau tidak begitu menyentuh sisi kualitas hadis. Hal yang sama terjadi pada Ustadz L. yang mengajar Qurrah al-Uyu>n. Beliau tidak membahas hadis-hadis yang ada dari sisi kedhaifan. Sementara Ustadz M. yang merupakan tenaga pengajar Durrah al-Nasihi>n berujar bahwa hadis dhaif tidak mengapa selagi digunakan sebagai Fadha>il A’ma<l (Interview dengan L., Santri PP. Tabah tanggal 7 Maret 2011). Hal ini membuktikan bahwa peta keilmuan mayoritas ustadz yang mengajar di pesantren ini bukanlah muhaddisi>n. Sehingga bisa dilihat, kelemahan dari segi metodologi verifikasi hadis (ulumul hadis) terasa sangat kurang di Pesantren ini.    
E.   SIMPULAN DAN PENUTUP
Kajian mengenai hadis memang menjadi kelemahan dalam Pondok Pesantren ini. Kalaupun ada, hanyalah berkisar pada kitab-kitab fiqhiyyah atau akhlaq yang yang dibungkus dengan hadis Nabi. Mungkin karena memang spesifikasi keilmuan Pondok ini bukanlah ke ranah hadis, akan tetapi pada nahwu dan juga fikih. Sehingga berimplikasi pada minimnya pembahasan-pembahasan kitab-kitab primer semacam S{ahi>h Bukha>ri>, S{ahi>h Muslim. Fenomena ini nampaknya sejalan dengan hasil penelitian Martin Van Bruinessen yang menyebutkan bahwa kitab-kitab hadis primer memang jarang dipelajari di Nusantara (Martin Van Bruinessen, 1995, 161).
Tidak hanya itu juga, musthalah hadis juga kurang mempunyai geliat. Hal ini tampak dari background ustadz-ustadz yang kurang begitu mumpuni dalam ilmu hadis. Hanya sebagian kecil saja yang terampil dalam salah satu keilmuan Islam ini, semisal LL. tadi. Meskipun pada tahun-tahun belakangan muncul Madrasah Diniyah formal dan Ma’had Ali yang banyak mengkaji kitab-kitab Musthalah hadis. Namun sepertinya butuh beberapa tahun lagi untuk dapat membangun kajian-kajian hadis yang bagus.
Demikian makalah ini penulis buat. Penulis yakin bahwa makalah ini penuh dengan kesalahan dan kekeliruan. Oleh karenanya, penulis meminta saran dan kritikan dari teman-teman serat bapak dosen.  


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Butuh buku "Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan" karya Aksin Wijaya? Hubungi 085729455365
Original From : http://m-wali.blogspot.com/2011/12/cara-pasang-iklan-di-samping-kiri-blog.html#ixzz1eavJZnQj